Apa yang akan menggantikan Dermaga Yamashita? Jawaban atas pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Namun satu hal sudah pasti: dermaga ini kini berdiri di ambang sebuah perubahan besar. Dermaga Yamashita selesai dibangun pada tahun 1963, membentang seluas sekitar 47 hektare sebagai pusat logistik yang luar biasa. Ia menopang Pelabuhan Yokohama di masa pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadi saksi bisu lalu-lalang ribuan peti kemas dan muatan barang di sepanjang kakinya. Namun seiring berubahnya pola distribusi dan beralihnya peran utama pelabuhan ke fasilitas yang lebih besar, dermaga ini perlahan-lahan menyelesaikan tugasnya. Pemerintah Kota Yokohama kini tengah menggarap rencana untuk menghidupkan kembali lahan luas ini sebagai pusat baru kota. Yang dicita-citakan adalah sebuah kawasan pengembangan ulang yang berfungsi sebagai ruang budaya, hiburan, dan pertukaran. Sebuah ruang kota di mana warga dan para pengunjung dapat berkumpul, merasakan denyut masa depan Yokohama secara langsung. Rincian seperti rencana fasilitas konkret dan pemilihan pengelola masih dalam tahap pembahasan dan penyesuaian. Namun arahnya sudah jelas: tempat ini sedang bersiap untuk bertransformasi dari "pelabuhan yang mengangkut barang" menjadi "pelabuhan yang menyambut manusia". Coba arahkan pandangan Anda ke bawah, dari lantai observasi ini, ke hamparan dermaga yang luas itu. Saat ini ia tampak terbentang diam — sebuah dataran beton yang sunyi. Namun izinkan diri Anda untuk mengingat kembali
kisah Yokohama yang telah Anda ikuti sepanjang panduan audio ini. Sebuah kota yang luluh lantak akibat
Gempa Bumi Besar Kanto, lalu bangkit kembali, hangus dibakar bom, direnggut, dan akhirnya direbut kembali oleh tangan warganya sendiri. Yokohama telah berkali-kali kehilangan, dan berkali-kali berdiri tegak. Dermaga Yamashita pun demikian — ia telah menyelesaikan satu perannya, dan kini menanti kelahiran kembali. Sejarah kota yang terus berulang antara kehancuran dan kebangkitan itu, kini akan terukir sekali lagi di atas batu karang dermaga tersebut. Dahulu,
bukit yang dijaga para serdadu menjelma menjadi taman bunga.
Sebuah boneka bertahan melampaui kobaran perang. Dan dari
pelabuhan ini, peradaban itu sendiri pernah mendarat di daratan. Kota ini selalu siap menyambut masa depan yang datang dari laut. Di balik cakrawala yang terbentang di ujung dermaga itu, hari esok Yokohama yang belum pernah terbayangkan sedang disiapkan dengan tenang.
Apa yang akan menggantikan Dermaga Yamashita? Jawaban atas pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Namun satu hal sudah pasti: dermaga ini kini berdiri di ambang sebuah perubahan besar. Dermaga Yamashita selesai dibangun pada tahun 1963, membentang seluas sekitar 47 hektare sebagai pusat logistik yang luar biasa. Ia menopang Pelabuhan Yokohama di masa pertumbuhan ekonomi yang pesat, menjadi saksi bisu lalu-lalang ribuan peti kemas dan muatan barang di sepanjang kakinya. Namun seiring berubahnya pola distribusi dan beralihnya peran utama pelabuhan ke fasilitas yang lebih besar, dermaga ini perlahan-lahan menyelesaikan tugasnya. Pemerintah Kota Yokohama kini tengah menggarap rencana untuk menghidupkan kembali lahan luas ini sebagai pusat baru kota. Yang dicita-citakan adalah sebuah kawasan pengembangan ulang yang berfungsi sebagai ruang budaya, hiburan, dan pertukaran. Sebuah ruang kota di mana warga dan para pengunjung dapat berkumpul, merasakan denyut masa depan Yokohama secara langsung. Rincian seperti rencana fasilitas konkret dan pemilihan pengelola masih dalam tahap pembahasan dan penyesuaian. Namun arahnya sudah jelas: tempat ini sedang bersiap untuk bertransformasi dari "pelabuhan yang mengangkut barang" menjadi "pelabuhan yang menyambut manusia". Coba arahkan pandangan Anda ke bawah, dari lantai observasi ini, ke hamparan dermaga yang luas itu. Saat ini ia tampak terbentang diam — sebuah dataran beton yang sunyi. Namun izinkan diri Anda untuk mengingat kembali
kisah Yokohama yang telah Anda ikuti sepanjang panduan audio ini. Sebuah kota yang luluh lantak akibat
Gempa Bumi Besar Kanto, lalu bangkit kembali, hangus dibakar bom, direnggut, dan akhirnya direbut kembali oleh tangan warganya sendiri. Yokohama telah berkali-kali kehilangan, dan berkali-kali berdiri tegak. Dermaga Yamashita pun demikian — ia telah menyelesaikan satu perannya, dan kini menanti kelahiran kembali. Sejarah kota yang terus berulang antara kehancuran dan kebangkitan itu, kini akan terukir sekali lagi di atas batu karang dermaga tersebut. Dahulu,
bukit yang dijaga para serdadu menjelma menjadi taman bunga.
Sebuah boneka bertahan melampaui kobaran perang. Dan dari
pelabuhan ini, peradaban itu sendiri pernah mendarat di daratan. Kota ini selalu siap menyambut masa depan yang datang dari laut. Di balik cakrawala yang terbentang di ujung dermaga itu, hari esok Yokohama yang belum pernah terbayangkan sedang disiapkan dengan tenang.